Senin, 20 Juni 2011

Pemikiran Ibnu Sina


PEMIKIRAN-PEMIKIRAN IBNU SINA

• Tentang Qodimnya Alam
Ibnu Sina : alam ini diciptakan dari maeri awal, yakni Al hayulal ula, jadi dari bahan yang sudah ada, jadi Tuhan menjadikan alam menjadi bentuk yang lain dari materi itu, maka alam qodim secara zaman, namun tidak qodim secara dzat
Ibnu Rusyd : Inilah alam keseluruhan, perselisihan disini berkenaan dengan waktu yang lalu dan wujud yang lalu. Wujud ini memiliki segi persamaan dengan wujud muhdats dan wujud al-Qadim. Maka mereka yang terkesan dengan persamaan wujud qadim akan menamakannya qadim pula, begitu pun mereka yang terkesan dengan wujud muhdats akan menamakan muhdats pula
Kesimpulan : kedua filosof ini menyatakan bahwa alam ini qodim secara zaman, namun tidak secara dzat.

• Tentang Pengetahuan Tuhan
Ibnu Sina : Allah hanya mengetahui dengan ilmuNya yang Kulli, sebab dalam alam selalu terjadi perubahan, seandainya Allah juga mengetahui yang juz'iyyat (rinci) maka akan terjadi pula perubahan ilmu Allah, dan itu mustahil terjadi padaNya.
Ibnu Rusyd : Cara Tuhan berbeda mengetahu yang juz’iyat dengan cara manusia mengetahuinya, pengetahuan manusia kepada juz’iyat merupakan efek dari objek yang telah diketahui, yang tercipta bersamaan dengan terciptanya objek tersebut serta berubah bersama perubahannya. Sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan kebalikannya, pengetahuan-Nya merupakan sebab bagi obyek yang diketahui-Nya. Artinya, karena pengetahuan Tuhan bersifat qadim yakni semenjak azali Tuhan mengetahui yang juz’I tersebut, bahkan sejak sebelum yang juz’I berwujud seperti wujud saat ini.
Kesimpulan : bahwa dua filosof ini adalah sepakat tentang cara Allah mengetahui hal-hal yang parsial (rinsi) adalah dengan ilmuNya yang kulli (umum)

• Tentang Teori Emanasi
Ibnu Sina : sebagai Al Kholiq, Allah menciptakan alam ini tanpa ada perantara zaman, jadi alam ini qodim secara zaman, namun hanya Allah yang qodim secara dzat, Allah berta'aqqul (menggunakan akalNya), kemudian muncul energi dahsyat membentuk materi awal (al hayulal ula), kemudian Ia rubah bentuk materi awal itu menjadi alam, hal ini sesuai dengan sunnatulloh bahwa biji berubah menjadi anak pohon, anak pohon menjadi pohon, pohon berbuah dan buah jatuh menjadi tanah. Jadi pohon tidak ada begitu saja, juga sejalan dengan konsep penciptaan alam dalam Al Qur'an
Ibnu Rusyd ;penciptaan bukanlah creatio ex nihilo, tapi juga bukan emanasi tapi penciptaan adalah proses perubahan dari waktu ke waktu. Menurut pandangan ini, kekuatan kreatif terus-menerus bekerja dalam dunia, menggerakannya dan menjaganya. Adalah mudah untuk menyatukan pandangan ini dengan konsep evolusi, jadi emanasi tidaklah masuk akal, sebab akan menggambarkan sebuah hayalan dalam penciptaan alam ini.
Kesimpulan : untuk teori emenasi ini, Ibnu Rusyd menolak, ia lebih berpendapat bahwa alam ini diciptakan secara evolusi, dan hubungan sebab akibat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar