Sabtu, 21 Mei 2011

Semantik


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Semantik atau ilmu makna berkembang sejak tahun 1970-an, meskipun sudah diawali sejak 1825, di Indonesia semantik mulai berkembang sejak 1980-an dengan munculnya beberapa artikel atau buku-buku semantik.
Kajian makna kata dalam bahasa tertentu menurut sistem penggolongan semantik adalah cabang linguistik yang bertugas semata-mata untuk meneliti makna kata, bagaimana asal mulanya, bahkan bagaimana perkembangannya, dan apa sebab-sebabnya terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa. Berapa banyak bidang ilmu-ilmu lain yang mempunyai sangkut paut dengan semantik, oleh sebab itu makna memegang peranan tergantung dalam pemakaian bahasa sebagai alat untuk penyampaian pengalaman, jiwa, pikiran dan maksud dalam masyarakat.
Dari keterangan diatas menunjukkan betapa pentingnya mempelajari semantik dalam memahami makna bahasa, sehingga dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian semantik, unsur-unsur semantik, jenis-jenis semantik dan contoh-contohnya.
B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian semantik?
2.      Apa saja unsur-unsur semantik?
3.      Apa saja jenis-jenis semantik?
4.      Apa saja contoh-contoh semantik?

C.   TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk mengetahui pengertian semantik.
2.      Untuk mengetahui unsur-unsur semantik.
3.      Untuk mengatahui jenis-jenis semantik.
4.      Untuk mengetahui contoh-contoh semantik.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Semantik
Semantik (Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa,kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna.
Terdapat beberapa pendapat mengenai pngertian semantic, di antaranya:
1.      J. W. M. Verhaar: semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna.
2.      Abdul Chaer: semantik merupakan bidang linguistik yang objek penelitiannya makna bahasa.
3.      Aminuddin: semantik
4.      berasal dari bahasa Yunani mengandung makna signify atau memaknai.
Dari definisi di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa semantik adalah salah satu cabang studi linguistik yang membahas tentang makna.

B. Unsur-unsur Semantik
Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-taqnda di dalam tingkah laku berbahasa.
Penggolongan tanda dapat dilakukan denagn cara:
  1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya:
a)      Hari mendung tanda akan hujan.
b)      Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir.
c)      Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.
  1. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya:
a)      Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.
b)      Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.
  1. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini dibedakan atas:
a)      Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.
b)      Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu:
- tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat, misalnya acungan jempol bermakan hebat, bagus.
-  tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.



C. Jenis-jenis Semantik
1.      Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus. Misalnya, kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
2.      Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi. Misalnya, berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.
3.      Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya: a. rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala), b. sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anka SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.
4.      Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Misalnya,
(1) orang itu menampar orang
(2) orang itu menampar dirinya
 Pada (1) orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku dan orang2 sebagai pengalam, sedangkan pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan  orang1 dan orang2 karena mengacu kepada konsep yang sama.
5.      Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini. Misalnya orang itu mata duitan
6.      Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif, misalnya dia adalah bunga di kampung itu.
7.      Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun, misalnya kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
8.      Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa, misalnya kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.
9.      Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan, misalnya meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.
10.  Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalkan. Misalnya, seperti anjing dan kucing yang bermakna dua orang yang tidak pernah akur. Makna ini memiliki asosiasi bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersuara memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.




KESIMPULAN

Semantik (Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa,kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna.
Unsur-unsur Semantik:
1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam
2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang
3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia
     a. Verbal
     b. Non Verbal
Jenis-jenis Semantik:
1. Makna Leksikal            6. Makna Konotatif
2. Makna Gramatikal       7. Makna Konseptual
3. Makna Kontekstual      8. Makna Asosiatif
4. Makna Referansial       9. Makna Idiom
5. Makna Kognitif           10. Makna Pribahasa


DAFTAR PUSTAKA

Fauziah. 2006. Perubahan Makna Leksikal Kata Kerja Bahasa Indonesia Dari Bahasa ArabI. Medan
Djajasudarma, Fatimah. 1999. Semantik 1. Bandung: REFIKA.
Djajasudarma, Fatimah. 1999. Semantik 2. Bandung: REFIKA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar